Tentang Yang Tak Pernah Usai, 2024 Dengan Segala Persoalannya
Awalnya memang kita tak pernah menginginkan hal itu untuk bisa terjadi dalam kehidupan kita, sebab ini akan sangat mengharukan memikirkan banyak hal. Kita yang pernah di ikat oleh komitmen, cinta dan harapan tertanam dalam lubuk, namun hilang begitu saja seperti sepasang asing yang tak saling menghiraukan.
Tenyata kita selama ini hanya sebagai Moment bukan untuk komitmen hanya sekedar singgah tak benar-benar sungguh. Cinta dan kesetiaan itu tak betul-betul tak tanamkan dalam jiwamu. Kita tidak akan kuat membayangkan masa-masa itu sebab akan sangat mengiris hati, menusuk jiwa di relung ini, aku maupun kau sendiri yang akan merasakan.
Sebuah perjalanan selalu ada saja untuk mengumpulkan serpihan-serpihan kenangan, merekam setiap memori bahkan jejak menjadi sebuah cerita indah namun menyedihkan terangkum dalam sebuah sanubari.
Kita hanya bisa meninggalkan perasaan sedih, bahagia, kecewa bahkan terluka pertanda kamu pernah ada dan singgah. Hari-hari kita telah berganti, suara keriuhan selalu berkumandang di kejauhan menitipkan asa dan rasa, berbarengan dengan jalanan kota yang mulai kesepian dan di basahi dengan rintikan hujan.
Mentari terakhir kita telah terbenam, masih dengan harapan dan cita-cita yang sama yang belum sempat kita wujudkan termasuk cinta itu sendiri di antara hiruk pikuk dan carut marut keadaan sekitar kita .
kehidupan ini baru membuat kita sadar bahwa setelah kepergian baru kita merasakan apa arti kehilangan. Menyesali nasib, menyalahkan takdir sebab penyesalan selalu datang di belakang. Meski di antara gemilang sunyi, sepi dan sendiri hidup harus terus di perjuangkan.
Dengan tanggung jawab besar, rasa memiliki yang terlampau besar dan dalam, tiba-tiba kita terduduk diam dan membisu memikirkan hal-hal apa yang telah kita lakoni dulu, dengan satu perasaan cinta dan sayang yang sama membuat hati ini sedikit bisa terobati meski kisah itu hanya sebatas nostalgia yang berceceran pada serpihan-serpihan kenangan yang entah menjadi masa lalu atau untuk masa depan.
2025 hadir dengan transformasi dan resolusi baru. Manusia kritis selalu hadir di setiap zaman bawa pesan penting perjuangkan keadilan. Berganti tahun bukan sekedar tambal sulam agar 2025 tak menjadi kelam.
Rasmin Jaya



Komentar
Posting Komentar