Sirkulasi Kepemimpinan Politik 2024

 

Sirkulasi Kepemimpinan Politik 2024

Oleh : Rasmin Jaya , Pegiat Demokrasi & Pemantau Pemilu 

Pandangan penulis ini diurai dari beberapa rangkaian pertemuan setelah mengikuti kegiatan seminar dan dialog, akibat banyak pertanyaan yang hingga di kepala dengan banyaknya keresahan atas krisisnya legitimasi kepemimpinan politik di daerah yang berjalan selama ini. Ini akan menjadi jawaban dan arus balik dalam menghadapi pesta demokrasi tahun 2024 tentang bagaimana calon pemimpin dan kepala daerah yang kita inginkan dan bisa memberikan jaminan kesejahteraan kepada masyarakat.

Bicara kepemimpinan semua orang pasti punya perspektif dan pandangnya masing-masing tentang pemimpin yang baik dan bijaksana itu seperti apa. Ada yang menginginkan kepemimpinan politik yang tegas, berani dan siap mengambil resiko atas keputusan yang ia buat, atau ada juga yang mencari pemimpin berdasarkan kepopuleran yang itu ditunjang juga dengan penampilan fisik yang menarik tetapi kepemimpinan yang baik dan benar sejatinya bisa memberikan kepastian kepada masyarakat akan hari esok dan yang akan datang, sebuah masa depan yang cerah dan jauh dari ketimpangan sosial, ekonomi, hukum dan budaya.

Terlepas dari itu kriteria pemimpin yang ideal harus mampu memberikan keyakinan perubahan yang fundamental, kewenangan strategis kepada setiap orang yang diberikan tanggung jawab dalam menjawab dan mengakselerasi kepentingan masyarakat karena sejatinya politik adalah panggilan untuk mengabdi pada masyarakat bukan mengedepankan syahwat dan ambisi untuk berkuasa.

Kedepan dalam menghadapi momentum pemilu 2024 sebagai generasi muda harus selektif dalam memilih pemimpin, harus menjadi cermin dan pionir untuk masyarakat yang di pimpinannya. Kekuatan pemuda harus menjadi ikon dan rol model dalam mempengaruhi sirkulasi pergantian kekuasaan dan kepemimpinna dalam suatu daerah, mampu menciptakan terobosan dan program yang bisa dijalankan dalam ruang lingkup pemerintahan.

Pemilu dan pesta demokrasi adalah kedaulatan rakyat satu-satunya sehingga tidak bisa kita lewatkan begitu saja apa lagi hanya dijadikan objek pengepul suara oleh para politisi yang mempunyai kepentingan maupun menjadi penonton didaerah sendiri, majunya suatu daerah karena keterlibatan pemuda baik dalam fungsi pengawasannya maupun mengejewantahkan pemikirannya ditengah masyarakat homogen dengan berbagai masalah yang kompleksitas.

Sehingga peluang dan kesempatan generasi muda harus kita manfaatkan sebagai cikal bakal melahirkan kepemimpinan yang ideal seperti yang kita harapkan bersama. Diskusi dan dialog tentang kepemimpinan harus terus berkelanjutan dan digaungkan untuk menyongsong pemilu tahun 2024 sekaligus menjawab peluang bonus demografi dan Indonesia emas kedepan.

Dalam hemat penulis menghadapi masalah daerah yang semakin kompleks sangat dibutuhkan kepeloporan pemimpin yang ideal revolusioner dan visioner, kaya akan ide, gagasan, bisa berkerja nyata ditengah-tengah masyarakat, menjawab segala kemerosotan yang ada dan bisa memetakan masalah. Olehnya itu dcalam pandangan penulis setiap kandidat dan figur yang muncul harus mengukur diri seberapa jauh mampu berkontribusi kepada rakyat bukan hanya sekedar mengobral janji dan melakukan pencitraan untuk meningkatkan popularitas kepada masyarakat.

Rasa trauma ini yang kadang-kadang membelenggu rasa empati masyarakat dalam politik untuk tidak terlibat dan pro aktif di dalammya karena ada keresahan yang selama ini yang tak kunjung ada jawaban. Terjadinya krisis kepercayaan kepada pemimpin dan politisi karean tingkah laku mereka juga yang tidak mengindahkan etika dalam berpolitik maupun kepada konstituen.

Dalam rangkaian perjalanan kepemimpinan politik dan demokrasi selama ini potret dinamika dan sirkulasi pergantian kekuasaan masih di pengaruhi oleh dinasti politik dan politik uang, tak hanya itu dominasi birokrat dalam politik sangat besar sehingga peluang generasi muda sangat kecil dalam kontestasi politik 2024, tentu sebagai generasi muda harusnya bisa menerobos dinding-dinding itu untuk mengisi pos-pos kritis di parlemen dan memutus rantai setan yang selama ini terjalin kuat antara eksekutif dan legislatif.

Apa lagi dalam ruang politik akan diisi oleh para pemodal yang memiliki kekuatan politik sebagai instrumen konsolidasi dan mobilisasi massa. Dinasti politik (oligarki) akan selalu mempengaruhi konstalasi pemilu dan pilkada jika kelompok-kelompok pemuda khususnya mahasiswa tidak mampu melawan dan menerobos arus tersebut.

Kekuatan pemuda yang masih menjaga sikap kritis harus menjadi penyangga dan penyeimbang untuk mempengaruhi ruang kepemimpinan di legislatif maupun eksekutif.

Apa yang menjadi upaya yang masih berada di luar kekuasaan harus tetap rasional memberikan pendidikan dan edukasi politik kepada mahasiswa dan masyarakat melalui kegiatan dialog dan diskusi yang produktif, di sisi lain sebagai generasi muda harus tetap menjadi mitra kritis pemerintah dalam hal mengawal kebijakan strategis yang berimplikasi kepada pertumbuhan ekonomi masyarakat dan pembangunan daerah.

Menurut pengamatan penulis, selamat ini partai oposisi yang berada diluar kekuasaan belum memberikan kontrol serius terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat, apalagi jika dilihat kondisi sosial politik di momentum Pilcaleg dan Pilkada ini reaksi mereka terhadap beberapa kebijakan pemerintah hanya untuk menarik simpati masyarakat dalam konteks ingin meraih gelembung suara pada saat pemilu nanti.

Partai politik dan oposisi tidak betul-betul serius dalam pengawalan tetapi bagaimana mencari kesempatan dan peluang untuik menjadi bagian dari kekuasaan tersebut, inilah realitasnya dalam kehidupan demokrasi kita, sehingga keterlibatan kawula muda harus betul-betul komitmen dan konsisten terhadap garis perjuangannya. Apa lagi mereka yang belum berafiliasi dengan partai politik atau menjadi tim sukses dari salah satu paslon.

Opini ini hanya sebatas wacana akademik dan masih bisa kita perdebatkan secara santun.

Komentar

Postingan Populer