Siklus Demokrasi dan Elit Politik



Opini : Rasmin Jaya 
Pegiat Demokrasi 

7 bulan lagi keriuhan demokrasi, politik dan pemilu seakan sudah cukup membebani hati, menguras akal sehat dan bahkan air mata yang kian banyak tertumpah akibat gaya elit para pemimpin dan pejabat kita yang hanya memikirkan pergantian dan siklus kepemimpinan mereka selanjutnya.

Dimana mendekati proses pergantian kekuasaan ini, calon legislatif dan eksekutif terkesan hanya berebut citra publik untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas dengan berbagai instrumen, mulai dari baleho dan lainnya namun tak jelas dimana visi dan misi politik yang di bangun untuk mendapatkan suara masyarakat.

Demikian hal tersebut, seakan masyarakat hanya dijadikan objek politik dan sarana sebagai pengepul suara tetapi setelah terpilih tak pernah menjadikan mereka sebagai orientasi utama.

Namun waktu seakan tak peduli dengan pemilu, politik pragmatis terus berotasi dengan kepentingan sesaat dan jangka pendek. Jalan rusak, pertumbuhan ekonomi merosot, kebijakan yang tidak pro rakyat, gubuk, dapur rakyat yang tak lagi mengepul asapnya dan sederet kasus pejabat menghiasi dunia maya sehingga membuat masyarakat tak lagi percaya kepada pemimpinnya, dalam hal ini terjadi krisis legitimasi.

Namun hidup bukan hanya tentang pemilu dan politik saja, tetapi pemilu menjadi penting sebagai kadaulatan rakyat satu-satunya dan intrumen untuk memilih pemimpin yang ideal, yang jelas memberikan jaminan masa depan untuk kesejahteraan dan pembangunan daerah yang lebih baik.

Disisi lain pemilu sebagai ruang dan celah karpet merah untuk memuluskan kepentingan segelintir orang dan mempertahankan status quo para elit komprador. Seolah olah kekayaan mereka bertumpuk diatas penderitaan dan jeritan rakyat kecil, mereka bermesraan dibalik mata rakyat yang kita sebut sebagai panggung sandiwara, tetapi didepan rakyat seolah berdebat atas nama oposisi dengan alasan kesehatan demokrasi dan pemilu.

Pemilu hanya bagian terkecil dari demokrasi, namun setelah momentum pesta rakyat itu, para petani, rakyat kecil dan buruh harus kembali mencangkul, nelayan melaut, dan buruh kembali kepabrik setelah dijadikan sebagai pengepul suara untuk memuluskan kepentingan para calon pemimpin. Sementara, elit politik mulai sibuk pembagian kue kekuasaan dan posisi hingga oposisi yang akan bergulat dalam sistem pemerintahan.

Rakyat sendiri pulang pada kesengsaraan dan kemelaratan dengan menyaksikan gaya elit politik dengan penuh sandiwara yang senyum dibeberapa baleho yang tersebar diruas-ruas jalan tetapi pikiran dan gagasan mereka untuk membangun tak jelas dimana arahnya. Mereka seolah hanya menjadikan jalan kekuasaan untuk menjelajahi dan memeras rahim ibu pertiwi hingga hutan dan alam kita menjadi gundul yang tak menjaminkan reklamasi.

Siapapun pemenangnya rakyat tetap kalah, legislatif pun hanya segelintir orang yang hanya bertukar dan bertawar jabatan akibat kerja siluman yang tersembunyi. Pemilu hanya pergantian orang-orang berkuasa namun tak menjadikan rakyat sebagai basis dan orientasi utama dalam membangun daerah dan sistem ekonomi.

Kekuatan rakyat adalah menjadikan ia sadar bahwa perubahan tak semestinya selalu berpangku tangan pada kekuasaan dan pemerintah, meskipun masyarakat tak pernah tersebut oleh pendidikan dan edukasi politik tetapi dengan deretan kebijakan dan fenomena diatas menjadikan kita akan lebih kritis dalam menelah setiap pemimpin yang datang untuk mencari suara dan simpati rakyat.

Sudah saatnya masyarakat bisa lebih vokal lagi, tidak bisa hanya mengandalkan legislatif saja, apalagi membiarkan pemerintah bekerja tanpa kontrol sosial. Pemikiran revolusioner dan progresif menjadi sarana utama dalam memberikan saluran politik, pemilu dan demokrasi agar semakin baik.

Setiap zaman beda orang dan setiap orang beda zaman. berbagai peristiwa turut di isi oleh kelompok muda untuk mendobrak dan mendeteksi arah perkembangan zaman. Karena zaman tidak bisa melihat. Namun zaman itu punya gairah, punya semangat, optimisme dan pesimisme dalam melihat fenomena yang terjadi. Maka menulislah sesuatu untuk zaman kita sendiri sebagai senjata untuk mengingatkan kepada pembuat kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat.

Yang penting ada perubahan dulu, sebagai langkah awal yang bagus. Sebab begitu ada perubahan orientasi berarti ada wawasan baru di kalangan pembuat kebijakan. Wawasan baru nggak mungkin ada selama tak ada kesadaran baru.

Jadi siklusnya sederhana saja.Sejarah akan melahirkan terobosan dan kesadaran baru, wawasan baru, maka lahirlah visi, misi dan tujuan jangka panjang. Dari itulah lahirlah konsepsi dan narasi melalui deretan pengamatan, penelitian dan investigasi secara otentik dan faktual!


Penulis : Rasmin Jaya

Pegiat Demokrasi

Komentar

Postingan Populer