Peluang Dan Tantangan Perempuan Dalam Pusaran Politik Dan Demokrasi
*Catatan Penting Dialog Semalam bertemakan : Eksistensi Perempuan Dalam Pusaran Politik Dan Demokrasi (Sabtu, 10/12/2022)*
Malam Minggu Produktif Bersama Perempuan-perempuan Hebat bung & Sarinah dalam kegiatan bazar dan dialog DPK GmnI FISIP-UHO yang bertemakan "Eksistensi Perempuan Dalam Pusaran Politik Dan Demokrasi.
Diskusi dan wacana tentang perempuan akan selalu menarik untuk menarik untuk menjadi bahan diskusi apa lagi menyoal dalam pusaran politik dan demokrasi. Posisi dan eksistensi perempuan menjadi sangat penting dalam hal partisipasi dan keterwakilan perempuan dalam ruang publik & pemerintah untuk mengisi pos-pos kritis.
Sehingga perlu ada upaya serius untuk terus mendorong kualitas dan kapasitas perempuan dalam memperjuangkan hak-hak politik sebagai representasi dalam mengakomodir program-program yang bersentuhan langsung dengan perempuan. Bahwa kuota perempuan dalam politik dan parlemen 30 persen harusnya bisa menjawab problem dan mengakselerasi segala kebutuhan dan kepentingan kaum perempuan. Program-program dari kebijakan eksekutif dan legislatif belum menyentuh segala titik krusial di tengah masyarakat dari berbagai lini sektor.
Masih banyak tantangan yang dari hadapi kaum perempuan ketika ikut berpartisipasi dan terlibat dalam dunia politik, kentalnya watak maskulin dan patriarki yang tidak sepenuhnya memberikan peluang kepada perempuan untuk merumuskan program, wacana dan isu sesuai dengan kebutuhan perempuan. dominasi patriarki dan hegemoni kapitalisme masih terus membelenggu kehidupan sosial, politik di tengah masyarakat.
Keterwakilan perempuan di parlemen belum bisa merepresentasi seluruh kalangan perempuan di akibatnya masih kentalnya oligarki, dinasti dan cengkraman birokrat pemerintah yang lebih mementingkan partai politik dan kelompok. Perempuan dalam politik dan parlemen tidak menjadikan perempuan bisa berdaya sepenuhnya meskipun demokrasi membuka seluas luaasnya akses hak untuk berpartisipasi dalam ranah kekuasaan tetapi sering kali perempuan mendapatkan streototipe/pelabelan negatif dalam kehidupan sosial masyarakat ketika melibatkan diri dalam ruang publik.
Tak hanya itu dalam dunia politik kompetisi masih sangat tajam, tak hanya modal sosial yang di butuhkan tetapi juga ongkos politik sebagai infrastruktr konsolidasi massa menjelang tahun politik.
Hal Itu yang mnjadikan batasan tersendiri bagi perempuan padahal melihat dari sejarah sebelum Ini ada banyak tokoh-tokoh perempuan yang mampu menguasai perpolitikan kala itu.Bahkan Bineka Tunggal Ika yang menjadi semboyan bangsa Ini lahir dari mulut seorang perempuan Yaitu Gayatri Rajapatni..
Terkait dgan UUD RI No 7 tahun 2017 jelas Bahwa keterwakilan perempuan hrus ada dalam parpol sebagai syarat untuk bersaing dalam pemilihan umum. Tetapi Hal Itu lagi-lagi di plesetkan dan di jadikan sebagai Pemenuhan kuota saja atau syarat administrasi saja.
Sudah seharusnya kita keluar dari kungkungan patriarki yang mitos-mitos yang mendiskriminasi dan memarjinalkan kaum perempuan. perempuan sudah harus merdeka, berdikari dan berdaya secara ekonomi dan politik agar apa yang menjadi harapan bisa mengakomodir segala program dan kepentigan kaum perempuan itu sendiri.




Komentar
Posting Komentar