Ruang Akademik Dalam Cengkraman Patriarki

 


'Kampus dalam cengkraman patriarki'

Penindasan Perempuan Dalam Varian Baru

Tema-tema tentang perempuan tak akan pernah habis untuk di perbincangkan dan di diskusikan baik yang menyangkut urusan domestik maupun dalam ruang publik GmnI kendari dalam merespon isu tentang kekerasan seksual dalam beberapa pekan terakhir ini. Sederhananya dalam diskusi yang terbangun kita punya banyak kesepakatan dalam melihat berbagai varian yang hadir tentang bagaimana penindasan perempuan itu bekerja.

Paling tidak penulis bisa mengklasifikasikan berbagai penindasan perempuan dalam bentuk varian baru. jika melucuti sejarah penindasan perempuan ada berbagai tahap ketika bicara sejarah perkembangan dan peradaban manusia dalam perspektif Karl Marx. ada beberapa klasifikasi tahapan-tahapan penindasan perempuan.

Komunal Primitif 

Relasi antara laki-laki dan perempuan yang di bangun pada masa kehidupan komunal primitif bahwa dominasi laki-laki lebih besar di bandingkan perempuan. Peran dan kendali yang di mainkan oleh laki berburu dan meramu adalah satu satu bentuk dominasi sehingga terkungkungan perempuan hanya menghasilkan reproduksi dan menjaga anak sehingga segala peran banyak di ambil dan di mainkan oleh laki-laki, di sinilah bahwa perempuan di nilai sebagai bentuk penindasan dalam varian baru di dapur, di sumur dan di kasur.

Patriarkhisme adalah sebuah ideologi yang memberikan kepada laki-laki legitimasi superioritas, menguasai dan mendefinisikan struktur sosial, ekonomi, kebudayaan, dan politik dengan perspektif laki-laki. Dunia dibangun dengan cara berpikir dan dalam dunia laki-laki. Ideologi ini sesungguhnya telah muncul sejak abad yang amat dini dalam peradaban manusia, terus dihidupkan dalam kurun waktu yang sangat panjang dan merasuki segala ruang hidup dan kehidupan manusia. sementara perempuan dalam situasi itu dipandang sebagai eksistensi yang rendah, manusia kelas dua (the second class), yang diatur, dikendalikan, bahkan dalam banyak kasus seakan-akan sah pula untuk dieksploitasi dan diskriminalisasi hanya karena mereka mempunyai tubuh perempuan.

Feodalisme 

Dalam kehidupan ini perempuan sangat di kekang kebebasannya dalam menuntut dan mendapatkan haknya baik dalam ruang domestik maupun di ranah public. perempuan tak begitu banyak kesempatan dalam berpendidikan menggeluti ilmu yang di tekuninya, berpolitik pun demikian. kuatnya dominasi patriarki yang mengakar tajam dalam sosial politik masyarakat sehingga mengelimir dan meminggirkan kaum perempuan itu dari panggung sejarah peradaban. olehnya itu banyak tokoh-tokoh perempuan yang menentang anggapan bahwa peran perempuan tak seharusnya di posisikan sebagai bentuk objek dan sasaran penindasan, kebiadaban tetapi bagi mampu juga bersaing seperti manusia (laki-laki) pada umumnya. sehingga perempuan mulai ada kesadaran dan kemampuan untuk membangun kelompok diskusi dan solidaritas perempuan untuk mampu meningkatkan kualitas diri secara kuantitatif

Kapitalisme

Kapitalisme adalah tahapan tertinggi dari imperialisme. dalam perkembangannya cara kerja kapitalisme mampu membombarlemen segala ruang kehidupan termasuk perempuan tersendiri.  dalam kesempatan ini proses penindasan mampu masuk  dalam ruang-ruang terkecil, melakukan eksploitasi, akumulasi dan ekspansi terhadap tubuh perempuan. Seakan dalam kehidupan sekarang seiring dengan perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi dengan peradaban baru dalam dunia ke tiga perempuan terkormerlialisasi dalam ruang publik pemodal mampu menguasai tubuh perempuan sebagai objek dan sasaran untuk menjadi penarik agar produksi yang di pasarkan oleh kelompok pemodal mampu terjual dan laris manis.

Eksistensi diri dan tubuh sebagai bentuk eksploitasi. satu hal tubuh jita di atur atas norma dan nilai sosial di sisi lain tubuh sebagai hak kepemilikan. hal demikian banyak menggaungkan kebebasan yang kebablasan yang tak mengindahkan nilai, norma sosial dan adat istiadat. memperagakan kemolekan tubuh akan terjadi bentuk eksploitasi tubuh dalam pikiran setiap individu sadar tidak sadar. tubuh perempuan seakan di jadikan komoditas yang di kapitalisasi sebagai bentuk penarik untuk mendapatkan keuntungan.

Kebebasan hari ini yang di perjuangkan oleh para pejuang kaum perempuan sudah di salah tafsirkan namun jika di lihat lagi dari segi perkembangan zaman dan teknologi sudah tidak bisa dinafikan lagi karena sebagai bentuk dampak negatif dari perkembangan zaman dan modernisasi itu sendiri. Ini sudah masuk dalam kebebasan yang tak beradab hanya saja jika di kaji lebih mendalam ini sala satu bentuk eksploitasi tubuh notabenenya kita mengarah pada nilai fungsi dan guna dari bentuk eksploitasi itu sendiri entah individu ataupun kelompok

Jika  dalam literatur sejarah bahwa perempuan itu selalu menjadi biang keladi korban dan sarang penindasan namun kenapa peradaban selalu berjalan pula seperti aliran sungai yang selalu mengalir pula. apa lagi jika memposisikan perempuan sebagai tiang negara maka ketika perempuan itu baik maka baiklah suatu negara atau peradaban itu sendiri, secara tidak sengaja bahwa dalam  sejarahnya perempuan itu di tempatkan pada posisi yang agung atau istimewa. Akan tetapi ruh perempuan selalu menghiasi jalannya peradaban dengan penuh rasa.

Di Indonesia, menurut pengakuan Pramoedya Ananta Toer, bukan siapa-siapa yang telah meletakkan batu sejarah modern Indonesia. bagi Pram, kartinilah orangnya. pram mengatakan bahwa “Kartini adalah pemula dari sejarah modern Indonesia. Dialah yang menggodok aspirasi kemajuan yang di Indonesia untuk pertama kali timbul di Demak-Kudus-Jepara sejak pertengahan kedua abad ke-19. Di tangannya kemajuan itu dirumuskan, dirincinya dan diperjuangkannya, untuk kemudian menjadi milik seluruh bangsa Indonesia.”

Perjuangan kaum perempuan dalam kungkungan sistem patriarki bukan hanya upaya perempuan untuk keluar dari penindasan tetapi bagian dari menyelamatkan suatu bangsa agar tidak tergerus oleh buasanya modernisasi yang melanda sendi-sendi kehidupan. Sehingga bicara peradaban kita sendiri tak bisa menafikan diri bahwa tak ada peran yang mendasar perempuan karena kontruksi yang di bangun kultural sosial masyarakat yang coba meminggirkan kaum perempuan dalam ruang-ruang produktif.

Penindasan terhadap perempuan itu sangat spesifik hadir dari berbagai varian yang berbeda karena perempuan banyak yang mengalaminya dalam beberapa hari terakhir ini. sudah sejak lama tubuh perempuan seakan menjadi ladang dan sasaran objek kebiadaban hingga menjadi objek alat pemuas nafsu dan seksualitas. perempuan didorong melakukan berbagai cara untuk membentuk tubuh ideal sesuai konsepsi kecantikan yang dikonstruksi kapitalisme bahkan sesuai dengan standar yang di tetapkan laki-laki sekalipun.

Meski sudah di lakukan berbagai upaya untuk mengikis pikiran seksime tetapi pola penindasan dan kekerasan seksual hadir dalam berbagai varian yang berbeda. sosialisasi dan edukasi kepada sesama tidaknya cukup, perlu ada upaya kongkret yang di lakukan laki-laki maupun perempuan dalam ruang lingkup akademik.

Meski sudah di lakukan berbagai upaya untuk mengikis pikiran seksime tetapi pola penindasan dan kekerasan seksual hadir dalam berbagai varian yang berbeda. sosialisasi dan edukasi kepada sesama tidaknya cukup, perlu ada upaya kongkret yang di lakukan laki-laki maupun perempuan dalam ruang lingkup akademik.

Minimal tidak perempuan bisa melawan hegemoni yang merendahkan kaum perempuan bahwa selama ini rasanya pikiran demikian sudah melembaga dalam tatanan sosial masyarakat, politik, budaya dan hukum itu sendiri. seakan mereka terkungkung dan terpenjara dalam pikiran masyarakat ( tak bebas ), selanjutnya perlu banyak melakukan kajian-kajian kritis untuk mengikis tafsiran bahwa perempuan selalu menjadi budak dan sarang penindasan. konstruksi pemikiran masyarakat yang sudah sangat mengakar memberikan label negatif terhadap perempuan dan membongkar mitos-mitos yang selama ini meminggirkan kaum perempuan.

Jagad perkampusan dan dunia akademik gempar, setelah baru-baru ini di gemparkan dengan pemberitaan di media yang membeberkan fakta terkait dugaan dan indikasi kekerasan seksual terhadap salah satu mahasiswi Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Di Univesitas Haluoleo.

Dalam dunia pendidikan rupanya sangat kental budaya patriarkinya. wadah dan rumah yang seharusnya di bentuk pola pikir, karakter dan jati dirinya generasi bangsa seakan berubah sekejap menjadi buas yang tak lagi menghargai harkat dan martabat manusia khususnya perempuan. padahal di bulan kemarin gencar-gercarnya sekelompok aktivis perempuan kendari mengkampanyekan soal kekerasan seksual dengan memberikan edukasi satu sama lain, bersuara di jalan, membagikan poster dan selembaran sebagai upaya meningkatkan pemahaman akan bahaya predator yang memangsa perempuan itu sendiri namun tak sedikit juga ketika  perempuan penyintas bersuara tentang kondisi objektifnya, maka kemungkinan respon balik publik patriarkis adalah fitnahan, ujaran ‘tidak tahu diri’. narasi streotipe tak sedikit juga hadir dari berbagai kecaman publik, hal tersebutlah yang kemudian perlu di kikis sedikit demi sedikit oleh perempuan maupun laki-laki untuk menepis label pelabelan negatif untuk korban kekerasan seksual tersebut. Mesti ada pendampingan agar tidak terjadi rasa trauma yang mendalam, tekanan psikologis dan psikis yang berkepanjangan. patriarki mengajarkan bahwa perempuan adalah makhluk yang senantiasa layak dialienasi, subordinasi, diskriminasi dan patut ditindas. betapa memilukan menjadi perempuan dalam atmosfir patriarkal. 

Agni (bukan nama sesungguhnya) sendiri (korban), sala satu mahasiswa Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan mengalami peristiwa yang tidak senonoh pada 18 juli 2020 di perumahanan dosen keluruhan kambu kota kendari dan pelakunya di duga sala satu oknum dosen guru besar FKIP itu sendiri. Kasus ini banyak mendapatkan kecaman dari berbagai elemen sala satunya respon pelik oleh kampus, sebab ditakutkan akan menjelekkan nama baik kampus sehingga akan menurunkan agreditas. dalam ceritanya rupanya yang di duga melakukan pelecehan seksual bukan hanya terjadi kali itu saja tetapi sudah beberapa kali hanya belum terkuak dan korban tidak berani melaporkan kejadian serupa.

Lantas, salahkah jika bersuara? ketika rasa takut itu begitu memuncak maka akan di pastikan akan ada korban lagi susulan yang mendapatkan tindak senonoh yang tidak mempunyai harkat dan martabat kemanusiaan. bisa bayangkan betapa mengerikannya predator seksual terasa mengancam keberadaan kita sehingga tak ada tempat aman lagi untuk kaum perempuan? Memang pada dasarnya butuh waktu untuk membuka suara, butuh pendampingan di tengah budaya yang tidak pernah memerhatikan persoalan seperti itu sehingga kondisi perempuan semakin terpinggirkan. ini budaya kita, banyak terjadi pemakluman tentang pelecehan seksual. lalu ketika ada pelecehan, kita beramai-ramai menyalahkan korban. Ini adalah sala satu faktor karena pikiran masyarakat sudah sangat mengakar tentang streototipe.

 

    




Komentar

Postingan Populer