Perempuan Bukan Sarang Kebiadaban & Penindasan.

Penulis : Rasmin Jaya 

Menulislah agar engkau abadi. (" Pramoedya Ananta Thoer ")
Jangan sebut aku perempuan sejati Jika hidup hanya berkalang lelaki , Tetapi bukan berarti aku tak membutuhkan lelaki untuk aku cintai . " Nyai Ontosoroh "

Polisi memperkosamu , Polisi Membunuhmu.
Belum kering darah yang menetes di atas jazirah ibu pertiwi ini, luka yang masih menganga belum sempat menutup kebesaran hati untuk mengikhlaskan, sontak kita kembali di kejutkan dengan kejadian yang amat keji dan biadab . Polisi , polisi , polisi nampaknya mereka tak hanya pandai bermain akrobat di jalanan mengusir dan melakukan tindakan Represif terhadap demonstran tetapi juga pandai beraktikulasi di atas ranjang dengan kuasa dan baju kebesaran mereka.

Rasanya tidak begitu lengkap jika ada peristiwa satu waktu yang di jalani atau di alami begitu. Apa lagi yang menyangkut rahim peradaban bangsa yang tergerus oleh buasnya kedurjanaan dunia yang menerkam kaum perempuan dengan sewenang-wenang dan menjadi kan nafsu birahi atas nama cinta dan kesetiaan. Meski begitu bangsa ini menyimpan bagitu banyak misteri, peristiwa dan catatan kelam masa lalu tentang deretan pelanggaran HAM yang coba di plintir dan di politisasi.

Belakangan ini lembaga kepolisian berhasil membuat kita terperangah. Di hadapan publik mereka mempertotonkan akrobat yang luar biasa, Yang menampar seluruh wajah mahasiswa, pemuda dan bahkan keluarga korban yang belum sempat terselesaikan kasusnya. Dari jalanan hingga ranjang perannya begitu berbahaya. Terhitung dari 1 September 2019 penampilannya bukannya membawa pelindung dan pengayom tapi menjadi penindas. Selain melakukan represif gerakan rakyat di jalan ternyata kita juga di kagetkan terhadap kejadian yang menimpa sala seorang mahasiswa yang di perkosa oleh sala sati oknum kepolisian hingga menjadi pelaku pembunuhan.

Biadapnya tindak tanduk kepolisian membuat harkat dan martabat kemanusiaan tak lagi menjadi begitu berharga, Inilah mengapa sulit sekali keadilan di negri ini sebab sarang dari pada kejahatan HAM itu sendiri lebih banyak pada institusi kepolisian.

Pada Minggu 5 Desember 2020 kita di sajikan dengan adegan keji dan gila sala satu oknum polisi melakukan sesuatu yang mencedrai institusi kepolisian itu sendiri, Keadilan tak menjadi sesuatu yang berharga dan di pikirkan lagi. Kekuasaan memang tak memandatkan untuk melayani dari pada kemanusiaan itu sendiri, Inilah mengapa kebohongan dan kekerasan sering menjadi tampilan umum dalam lembaga institusi kepolisian. 

Inilah kenapa kebiadaban pihak kepolisian tak hanya tampil di jalanan tetapi juga di gorong-gorong kecil bahkan di ranjang yang menyemprotkan kemaluannya sebagai senjata paling mematikan untuk kaum perempuan.
Tengoklah berbagai pewartaan atas kasus pemerkosaan dan pelecehan oleh oknum kepolisian. Dari beberapa bulan terakhir mungkin kita banyak menyaksikan bagaimana tindakan kepolisian terhadap perempuan yang di tilang dan kemudian menidurinya maka hari ini kita kembali tersontak oleh perkosaan polisi serta tekanan keluarga bajingan yang ingin menggugurkan rahim korban pada seorang mahasiswa yang telah hamil dan terus menerus mengintimidasi sampai tergoncang jiwanya dan mengakhiri kehidupannya.

Komnas perempuan mengungkapkan bahwa selama 12 tahun terakhir ini praktek seksisme dan brutalisme terhadap perempuan sangat marak terjadi dengan 792 persen dapat di lihat lonjakannya dari 2018 terdahulu menuju 2021 terakhir ini. Aparat kepolisian sama sekali tak bisa di harapkan untuk mendorong di adilinya kejahatan perempuan dan jender sebab kejahatan itu sendiri adalah bermula dari mereka. Apa lagi dalam lembaga ini berandalan kelamin begitu licik dan licik dengan seksisme pikiran yang menghanyutkan mereka pada nafsu birahi. Biasanya mulai dari menjalin asmara sampai melecehkan pacarnya bahkan menjanjikan kebebasan dari penjara untuk meniduri anak pelaku, begitu biadabnya.

Atas aneka kebiadaban itulah sekarang kami mengecam oknum kepolisian beserta lembaganya sebagai tindak tanduk kejahatan dan juga bertanggung jawab pada proses penyelesaian kasus perkara HAM. Kami tahu menahu bahwa tidak semua polisi tahu akan hukum itulah mengapa mereka selalu menggunakan cara-cara yang intimidasi,culas dan kasar yang membunuh psikologis korban. 
Mereka melarang kita melakukan aksi, melawan dan memberontak padahal mereka adalah kejahatan itu sendiri.

Musuh bersama peradaban adalah kekerasan terhadap perempuan, Lawan tegakan keadilan, kesetaraan sebagai upaya menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan. Akhir-akhir ini banyak tuntutan muncul di setiap daerah dan kota menyoal tentang Pelanggaran HAM yang terjadi khususnya di sulawesi tenggara sendiri. Mendekati momentum hari HAM kita banyak di suguhkan dengan berita-berita yang kurang di terima oleh akal sehat, hati dan pikiran kita sebagai manusia.

Seperti ini lah dunia berkisah tentang kematian. Perempuan mahasiswa yang malang mati di atas tanah suci, Semoga tanah itu suduh menerima tubuh hina atas kebiadaban atas nama cinta dan kesetiaan. Bagiku ini adalah gembaran bagaimana dunia memperlakukan mu sebagai manisfestasi tuhan yang seharusnya di jaga agar tidak cepat punah, Demikian halnya puncak tertinggi di atas tumpukan-tumpukan kekejian dan kebiadaban. Kutukan tak mungkin kita terus lafalkan jika deretan fenomena kasus kekerasan hadir setiap saat mengisi kehidupan nyata kita. Selamat memperingati di atas di atas urat nadi kaum perempuan yang menghunuskan pukulan kejam paling berbahaya di dunia, mungkin saja mereka terlalu bersemangat menikmati duka yang sangat menyayat, terlalu bernafsu diam dalam kebungkaman yang tak terperih sehingga di perkosa dan di remas payudara sebagai kenikmatan atas nama cinta dan kesetiaan, lagi-lagi.

Peradaban kita semakin tergerus di kala rahimnya telah banyak tergerus oleh kebiadaban yang tak menjunjung tinggi hak dan martabat atas nama manusia. Jika peradaban yang akan muncul ke depan ini tidak lagi di bangun dengan konfrontasi ide-ide, jiwa dan keberanian niscaya kita akan cepat musnah dan runtuh.




Komentar

Postingan Populer