Pesta Demokrasi Mahasiswa (PEMIRA UHO) Jangan Ada Campur Tangan Birokrasi.

 

Rasmin Jaya 

Pesta Demokrasi Mahasiswa ( PEMIRA UHO) , Jangan Ada Campur Tangan Birokrasi.

Kendari, 30 November 2021. Pesta demokrasi mahasiswa kembali di gelar dan menghiasi kampus besar bumi praja Universitas Haluoleo Sulawesi Tenggara dengan berbagai hiruk pikuknya, Berbagai pergerakan mahasiswa dalam mengadu ide, gagasan, strategi, taktik dan siasat tampak terasa dalam setiap kelompok organisasi dan perkumpulan lintas fakultas demi membangun jejaring kekuatan koalisi maupun bargening antara figur yang satu dan yang lainnya. Menghadapi momentum pesta demokrasi di dalam kampus yang beberapa hari lagi akan di gelar melakukan pemilihan meski secara online adalah sesuatu yang tidak bisa kita lewatkan begitu saja.

Seluruh mahasiswa mesti merayakannya dengan bersuka ria dengan mengambil peran dan andil dalam menciptakan iklim demokrasi mahasiswa yang lebih baik tanpa menghilangkan subtansi dan orientasi dari pada pemilu raya mahasiswa tersebut. Dalam pemira setiap mahasiswa harus berkompetisi dan bertarung menawarkan ide dan gagasan untuk perbaikan lembaga kemahasiswaan dan mengembalikan marwah mahasiswa itu di internal kampus, Semua figur mesti mempunyai iktikad baik yang mempunyai harapan panjang melebihi tarikan nafas. Pernyataan itu di lansir dalam sala satu forum dan pertemuan oleh beberapa tokoh pergerakan mahasiswa sekaligus mengamati pergerakan PEMIRA tersebut, Ungkap Rasmin Jaya Tokoh Pergerakan FISIP.

Rasmin Jaya Tokoh Pergerakan FISIP melihat beberapa kandidat dan figur mulai bermunculan setelah beberapa hari di adakan seleksi dan verivikasi berkas dengan berbagai latar belakang organisasi dan lembaga ekternal kampus. Oleh karena itu para mahasiswa yang berlatar belakang aktivisme gerakan, akademik dan lain sebagainya mempunyai hak yang sama untuk ikut terlibat di dalamnya dengan catatan mampu memenuhi syarat yang di tentukan oleh panitia penyelenggara (KPU).

Harapannya bahwa melalui Pemira ini bisa mendorong kebebasan mahasiswa dalam menentukan sikap politik dalam membangun jejaring kerja-kerja konsolidasi dan mobilisasi, melatih budaya demokrasi melalui pencalonan sebab dalam ruang akademiklah iklim demokrasi bisa tercipta dengan baik melalui praktek-praktek politik yang substansial dan tidak transaksional, pragmatisme, kampanye, pemungutan suara dan pengungkapan pendapat sebab praktek-praktek politik yang di lakukan di kampus akan menunjukan bagaimana pengaruh dan kondisi politik lokal dan nasional dalam kran demokrasi sekarang ini.

Pemilu raya kampus merupakan sarana dan arena untuk menampilkan kader-kader terbaik, mencetak pemimpin-pemimpi bangsa yang mampu menunjukan kualitas dan potensi sebagai bekal di masa depan. Semua ini menjadi simulasi demi terciptanya para pemimpin bangsa yang handal di kemudian hari. Karena kampus merupakan ladang kepemimpinan masa depan yang sangat subur. Kuncup-kuncup pemimpin itu bernama mahasiswa. Maka biarkanlah kuncup itu mekar menjadi bunga dan pada saatnya menjadi buah yang bermanfaat untuk semesta tanpa ada campur tangan birokrasi untuk menekan atau mengintimidasi pesta demokrasi mahasiswa. Itulah saatnya ketika negeri ini panen raya para pemimpin yang akan memandu bangsa besar ini menuju kejayaannya sebagai guru peradaban, Jangan ada sama sekali campur tangan antek-antek birokrasi ataupun ada pemihakan dalama satu FIGUR dalam perhelatan pemira demokrasi mahasiswa tersebut , Ungkap Tokoh Pergerakan FISIP Rasmin Jaya.

Para aktivis pergerakan mahasiswa hendaknya memikirkan konsep regenerasi kepemimpinan pergerakan mahasiswa. Keberhasilan sebuah gerakan dan kelembagaan pada hakikatnya tidak diukur hanya pada satu periode saja, tapi juga dilihat dari daya tahan pergerakan pada masa-masa selanjutnya. Perlu disusun sedemikian rupa guna menghasilkan Kelembagaan yang progresif dan komprehensif tanpa melakukan cara-cara pragmatisme sehingga ia menjadi kawah candradimuka yang melahirkan para pemimpin pergerakan yang tangguh dan berwibawa. Idealnya para pemimpin pergerakan mahasiswa muncul melalui sebuah proses panjang yang di gembleng melalui kaderisasi yang kuat, terpadu dan bukan pemimpin karbitan yang muncul tiba-tiba tanpa penguasaan konsep dan pengalaman yang mumpuni yang hadir hanya atas dorongan BIROKRASI kampus.

Pimpinan kelembagaan mahasiswa harus menjadi icon dari seluruh mahasiswa setelah terpilih dan kembali memperbaiki silaturahmi dengan melakukan rekonsiliasi. Ia merupakan pengambil keputusan tertinggi di lembaganya yang harus mempertanggungjawabkan pengelolaan lembaga kemahasiswaan tersebut kepada mahasiswa tanpa campur tangan Birokrat untuk menekan mahasiswa itu sendiri, Mereka cukup menjadi pembina dan pengarah yang baik. Tutur Rasmin Jaya Tokoh Pergerakan FISIP di akhir diskusinya.

Komentar

Postingan Populer