Transformasi Gerakan Menuju Satu Dekade GmnI Kendari. Refleksi
Kendari 22 Maret 2022, Menuju ulang tahu dies Natalis GmnI secara nasional yang akan di selenggarakan pada 23 Maret 2022. DPC GmnI Kota Kendari sendiri turut dan ikut serta menyukseskan kegiatan tersebut sebagai bentuk refleksi internal melihat perjalanan pamjang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia yang ke 68 dengan segala dinamika, tantangan dan transformasi seperti yang terjadi sekarang ini. GmnI kota Kendari dalam sejarah terbentuknya mempunyai banyak hambatan sejak terbentuknya. Saat ini GmnI Kendari sendiri Menuju satu dekade.
Kegiatan yang mengambil takjuk tema : Transformasi Gerakan Menuju Satu Dekade GmnI Kendari.
Penulis dalam kesempatan nya membeberkan berbagai hal yang di anggap penting semoga dengan kegiatan dies natalis tersebut bisa menjadi renungan dan juga refleksi dalam memperbaiki hal-hal yang penting untuk perubahan GmnI ke depan. Menciptakan dan melahirkan kepeloporan kepemimpinan yang progres dan revolusioner adalah sala satu dari berbagai target ke GmnI ke depan, mengisi ruang dan pos-pos kritis dari berbagai lini sektor, bisa melakukan gebrakan loncatan intelektual yang lebih jauh ke depan, mempersatukan barisan nasionalis marhaenis baik nasional maupun di tataran cabang seluruh Indonesia.h
Sehingga terkait dengan Orientasi dan tujuan GmnI yang berhaluan nasionalis dengan asas perjuangan Marhaenisme bisa terwujud dalam pengejawantahannya dengan baik dalam dalam memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas.
Jauh dari itu menjadi substansi dan sasaran dari harapan terselenggaranya dies natalis GmnI bisa membawa kepeloporan kepemimpinan yang dapat menyatukan dan merangkul seluruh pengurus anggota dan kader dari sabang sampai merauke. Secara HISTORIS berbicara mengenai gerakan organisasi GmnI akan selalu menjadi tema menarik, menegangkan dan akan selalu menjadi wacana dalam seluk beluk pergerakan mahasiswa.
Dalam struktur politik indonesia sendiri peran politik gerakan mahasiswa yang berhaluan nasionalis ini mulai populer sejak terjadinya perubahan kekuasaan di tahun 1966-1967. Sebelum masa itu peran sebagai kelompok penekan dan pendorong perubahan sosial dan tatanan masyarakat lebih di kenal dan melekat pada kelompok pemuda. Peran pemuda itulah yang menjadi sentral yang strategis dalam perubahan tatanan sosial, politik, ekonomi dan hukum ke arah yang lebih baik lagi.e
Dalam literatur sejarah peneguhan keistimewaan status dan peran organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia semakin kokoh sejak keberhasilan aksi-aksi yang di inisiasi oleh beberapa kelompok mahasiswa yang melebarkan sayap gerakan yang mengkritik kebijakan-kebijakan.
Rasmin Jaya Ketua Komisariat GMNI FISIP - UHO Cabang Kendari menyatakan bahwa barangkali kita ini masih terpengaruh dengan Hegemoni sejarah dan romantismenya tentang keheroikan masa lalu yang membuat kita tidak bisa Move On tentang perjuangan dan kepeloporan Pergerakan organisasi GmnI meski bergerak di bawa Tanah.
Sejarah juga adalah juga biang untuk masa depan dan di situlah ia menjadi misteri. Kita yang hidup hari ini tentunya berusaha keras membaca ke mana ia bergerak dalam tiga langkah ke depan, Tentunya kita juga harus punya lompatan intelektual dan melampaui generasi kekinian tentang pola pikir. Mungkin sebuah usaha yang tak sepenuhnya sia-sia. Mereka yang membaca gerak sejarah dan bergerak untuk segera mengubah keadaan dengan penuh keyakinan biasanya akan lebih siap menghindari kutukan zaman bahwa sejarah datang mengutuk pintu tapi sayangnya di dalam hanya ada orang-orang kerdil, Ungkap Rasmin Jaya .
Namun mungkin juga sejarah bisa berjalan stagnan dan diam jika tak ada unsur yang membuatnya bergerak atau bergairah yang pada prinsipnya terlalu banyak yang mengada ngada dan kurang jujur terhadap realitas dan fakta sejarah itu sendiri karena di politisasi dan di plintir untuk kepentingan elit kekuasaan sebab sejarah adalah milik seorang pemenang. Kita nampak bingung dan termangu-mangu bahwa kira-kira pelajaran apa bisa di ambil oleh generasi mendatang jika sampai pemelintiran sejarah itu terjadi.
Bahwa sejarah dan kekuasaan adalah dua sekawan yang mungkin ikut menentukan arah gerak zaman. Tak ada yang menduga dalam sejarahnya ketika Barack Obama memimpin dari pada amerika serikat yang minoritas kulit Hitam bahkan soeharto pun demikian.
Rasmin Jaya menyampaikan dan mencurahkan bahwa arus kekuatan GMNI sempat terkubur. Kita pernah terjadi suatu masa di mana rezim orde baru tak memberikan ruang dan keleluasan bagi entitas organisasi sosial politik yang berbeda dengan kekuatan orde baru sehingga terjadi adanya upaya Desoekarnoisasi dan menghilangkan ajarannya marhaenisme sebagai asas perjuangan GMNI itu sendiri.selalu ada pasang surut dalam setiap dinamika politik kebangsaan tetapi kita tak boleh terlempar dari fase sejarah bahkan untuk harus menjadi penonton.
Sungguh suatu masalah besar mahasiswa khususnya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia untuk menyesuaikan diri dengan berbagai langgan kekuasaan yang berubah dan iklim politik yang membawa sehingga apa yang di upayakan oleh mahasiswa dan aktivis GMNI untuk melakukan penyelamatan organisasi terjadi banyak perseteruan di tambah lagi pembersihan kelompok-kelompok yang di nilai kekiri kirian adalah langkah yang paling ekstrem dari perlakukan rezim orde baru pada saat itu.
Memang tidak mudah jika kita melihat petak sejarah dan kejayaan organisasi yang sampai hari ini berdiri kokoh karena pada prinsipnya juga tokoh-tokoh yang membangun nawacita dan mempertahankan ajaran bung karno marhaenisme harus berdarah-darah pula. Kejayaan itu sendiri melewati berbagai masa kepedihan, rasa pahit dan sangat pahit. Lantas apakah juga GMNI demikian mestinya ? Ya , Kita pernah terjadi masa kelam di mana organisasi yang terlahir pada tanggal 23 maret 1954 pernah terkubur hidup-hidup, merangkak dengan terkantung kantung dan bergerilya dalam waktu yang begitu lama.
Namun jika situasi dan kondisi sekarang tak bisa kita manfaatkan dan masih saja diam melihat situasi masalah dalam internal GMNI itu sendiri pasti kita akan merasakan kekalahan dalam perebutan kancah sejarah perjuangan. Liat saja di momentum ini misalnya bagaimana kaum kiri nasionalis radikal harus di cap komunis dan tak beragama . Itulah sedikit dari berbagai tantangan kaum kiri radikal yang beraliran nasionalis marhaenis di tengah pertarungan ideologi dan organisasi untuk melebarkan sayap masing-masing. Dan tak hanya itu anggota dan kader GMNI juga tak bisa lepas dari stigma kelekatan GMNI kepada sala satu partai politik tetap tertanam di benak masyarakat khususnya PNI dan PDIP, Kesamaan simbol-simbol dan kaitan sejarah masa lalu memperkuat argumen dan asumsi masyarakat bahwa GMNI merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sala satu partai politik di orde lama. Terbentuknya citra tersebut karena di pengaruhi oleh banyaknya mantan aktivis GMNI yang meniti karier politik di partai itu.
Pandangan itulah yang menjadi kendala aktivis GMNI untuk melebarkan sayap-sayap marhaenisme ajaran bung karno, menjalankan dari pada roda dan kerja-kerja organisasi. Namun meski demikian dan terlepas dari hal tersebut, Terdapat pelajaran dan hikmah yang menarik dari proses pelajaran sejarah itu. Sebab pada awalnya GMNI adalah upaya merealisasikan cita-cita dan perjuangannya membawa semangat berdiri dalam sikap teguh , pendirian dan independensinya.
Namun pada masa itu juga memberikan pelajaran terbaik, keterpurukan tak harus kita sesali dengan jalan membangun trauma politik karena pada dasarnya setiap zaman, peristiwa dan kejadian mempunyai tantangan yang berbeda -beda dalam proses perjalanan sejarah. Sehingga dengan keterpurukan dan hikmah sejarah itu dapat memberikan kesadaran baru untuk bangkit kembali dan meneruskan sejarah perjuangan GMNI sebagai organisasi kader yang berhaluan nasionalis.
Kebangkitan kembali GMNI tak juga mengharuskan kita untuk selalu kaku dalam menghadapi situasi politik dan nasional yang mencekam karena sejarah tersebutlah yang menjadi pegangan kita. Karena hak tersebut tak lahir secara instan namun melalui kalkulasi politik yang matang dan cerdas. Pemikiran kritis atas berbagai carut marut perjalanan GMNI harus tetap ada untuk mengubah haluan bangsa ini menuju cita-cita sosialisme indonesia. Sehingga menjadi sangat penting proses perjalanan GMNI berikutnya membuktikan bahwa keputusan itu tak salah dan suatu kaharusan sejarah yang harus kita pilih dan tempuh. Selain menjadi pijakan kebangkitan aktivis GMNI, keputusan itu pulahlah untuk membawa GMNI menghadapi masa-masa sulit dan selamat dari proses penataan politik Pragmatis.
Ujian terhadap independensi itu bukan tak ada sama sekali. Dalam setiap proses waktu dan kesempatan godaan-godaan itu akan muncul seperti ombak yang berderu kencang yang menyeret kita pada pusaran kepentingan pragmatisme politik dan sesat. Menyikapi fenomena dan keadaan tersebut selayaknya generasi baru GMNI dapat menempatkan posisi sejarah dalam kerangka pembelajaran dan refleksi. Pelajaran itu tentunya mengenai kecerdasan dalam membaca petak politik dan sosial, kemampuan menjaga stamina kader serta kematangan dalam mengelola konflik kepentingan. Pelajaran tersebut telah di tunjukann oleh aktivis GMNI pada masa itu, ini bukan proses Hegemoni sejarah atau romantisme sejarah itu sendiri meski kita akui bahwa di masa-masa sulit itu sangat penting sekali untuk menentukan sikap sebaik mungkin.
Di masa kini dan tentunya di masa depan juga barangkali yang sangat penting kemampuan seperti itu akan terus di butuhkan oleh organisasi sebagai wadah perjuangan dan penggeblengan kawah candradimuka untuk melahirkan tokoh dan pemimpin bangsa. Tantangan organisasi ke depan akan semakin kompleks dan keras sebab persaingan organisasi dan ideologi satu sama lain akan mewarnai dan menghiasi percaturan bangsa ini. Situasi ini tentunya memerlukan kecerdasan ekstra, Kemahiran dalam mengambil langkah dan taktik bagi bagi setiap anggota dan kader untuk melewati badai dan arus politik yang sangat deras.
Satu hal yang pasti bahwa politik akan selalu dinamis, tiada kawan dan lawan yang abadi semuanya hanya kepentingan. Pada suatu saat juga politik akan sampai pada puncak dan titik klimaksnya namun tak menutup kemungkinan pula bahwa pada waktu yang berbeda perjalanan itu kembali menurun sejalan dengan dinamika politik yang terus berkembang pada pusaran waktu dan generasi.
Untuk itu keputusan menjadi organisasi mahasiswa dan kader yang bernafaskan nasionalis harus terus di jaga dan di pertahankan apalagi di tengah carut marut dan transisi demokrasi, keputusan politik di penuhi ketidakpastian, euforia politik akan terus berlangsung. Dengan demikian kita harus tetap mengambil jalan tengah dan strategis sehingga langkah gerak tetap bebas dan akan terlihat cantik.
Dengan demikian kemandirian yang bernafaskan semangat berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) merupakan pijakan utama GMNI dalam menjalankan pergerakan politik pada masa kini maupun masa yang akan datang. Ungkapnya


Komentar
Posting Komentar