Melawan Rapuh .
Dok : Tahun 2020
Rasmin Jaya
Secuil Surat Dari Saudara !
Dalam gemerlapnya jarak ada rasa sedih yang ku rasakan karena tidak membersamai dari pada perpisahan terakhir saudara dengan ibunda tercintanya .
Sontak mendengar kabar duka itu dari sanak saudara , rasanya seperti mimpi tiba - tiba saja aku lemas tak berdaya . Tapi apa lah daya , jodoh , maut dan rezeki tidak ada yang tau dan kapan datangnya . April yang basah , baru saja hati dan perasaan belum sembuh setelah beberapa bulan lalu nenek kami meninggal kembali mengangga .
Seketika ada yang berubah kita di paksa untuk menerima beban berat dan kenyataan yang ada ini , Tak seperti dahulu lagi bercanda tawa walaupun suka dan duka bersama orang - orang tersayang , Kini mendadak sepi .
Rasanya senyum yang manis kini mulai kusam . Biar bagaimana pun kita harus terus memaknai hidup dengan setulus hati dan terus memperjuangkan nya , memperbanyak merenung . Cita - cita dan harapan yang harus kita gubah belum sepenuhnya menjadi kenyataan .
Kita hanya bisa meraba , mengelus dada dan panjatkan doa - doa yang melangit , karena kita tak sekali di uji , tapi rasanya ini bedah rasanya mengiris , pedih dan perih . Nafas yang pertama adalah keyakinan saat kita menjatuhkan air mata bahwa selalu ada Pelangi setelah hujan , Namun kini hari akan menjadi semakin sulit . Tak ada lagi orang - orang tersayang yang mampu melihat kebahagiaan kita di masa mendatang , rasanya hati dan jiwa mulai usang. Penuh kesabaran sebab ini takdir tuhan yang harus terus di jalani .
Dalam masa - masa sulit dan kesepian kita membutuhkan belaian kasih ibu yang penuh haru deru damba , akankah kita bisa lagi menggapai nya dalam ketidakberdayaan ini .
Aku tahu persis apa yang baru saja menimpa saudaraku , menimpa keluarga tercinta bahkan satu jam yang lalu pun sempat berhubungan melalui pesan WhatsApp namun tak ada lagi kata yang bisa dia keluarkan . Rasanya dia mulai kebingungan dengan keadaan yang terjadi , tak bisa kepala ini ingat rasanya ada hal yang aneh . Hanya untuk membuka mata saja aku perlu bersusah payah dengan keadaan yang kurang sehat karena cuaca Ekstrem di musim pancaroba. Dengan mengangkat tubuhku sendiri , aku belum sanggup melakukannya . Mataku tenggenang dalam perjalanan , ingatanku kini melalu lalang di masa lalu .
Aku terbangun di sebuah persimpangan jalan. Motor yang ku bawa rasanya agak sedikit sulit ku kendalikan . Waktu seolah berjalan lambat hanya untukku dan berjalan begitu cepat untuk yang lain. Semua orang yang ku lihat berjalan sigap menapaki pedestrian menuju tujuan masing-masing. Mereka berjalan dengan pandangan lurus ke depan, sehingga tidak sempat barang sedetik pun menengok keadaanku . Melihat saudara ku yang Ingin pulang kampung rasanya membawa duka dan kesedihan yang amat dalam . Tak sanggup ku menatap matanya yang penuh bening - bening air mata yang jatuh membasahi pipinya .
Jujur , rasanya seperti mimpi . Pikiranku melayang - layang mengingat genangan kenangan selama ini yang tak bisa ku gambarkan dengan kata - kata dan tindakan . Berapa banyak pengorbanan orang tua yang di berikan kepada kami anak - anaknya yang setiap saat ada untuk kita . Walau hal - hal sepele pun harus kami mengeluh .
Aku tidak tahu mana lagi yang merupakan mimpi dan mana yang bukan. Keduanya nampak nyata di dalam benakku. Perasaan ini sungguh kuat walau sedikit hancur ,pedih dan perih . Tidak mungkin aku bisa merasa sesakit ini jika pertemuanku dengan orang tua saudaraku hanya sebuah mimpi belaka.
Ku harap hidupku ini hanyalah sebuah mimpi. Suatu saat nanti, aku akan terbangun di pangkuanmu di taman kota itu karena kisah kita baru saja dimulai.
Aku berharap, di tahun 2025 nanti, aku benar-benar bisa bertemu denganmu. Bukan, bukan sebuah harapan, tapi sebuah kepastian. Aku sudah pernah mengalaminya dan itu memanglah aku 15 tahun dari sekarang. Aku akan mengalami sebuah kecelakaan motor dan akan di bawa ke rumah sakit. Aku akan bertemu dengan Ririn. Aku akan sembuh. Dan sore itu, ketika aku pulang dari rumah sakit, kami akan pergi ke taman kota, menyatakan perasaan satu sama lain, dan menjadi sepasang kekasih.
Ah! Sungguh mimpi yang indah!
Buru-buru ku raih ponsel yang ada di mejaku . Kali ini aku akan menuliskan perasaan yang sedang berkecamuk dalam diriku terhadap apa yang aku rasakan. Rasa rindu , pada seseorang yang bahkan sudah ku anggap sebagai orang tua sendiri rasanya sudah mulai banyak mengiris hati . Kuharap ketika nanti aku benar-benar bertemu dengannya di dalam alam baka ia bisa membaca puisi buatanku ini.
RINDU
Aku rindu
Entah pada siapa
Sosok yang sangat ku haru damba
Ku harap kenangan itu
Akan nyata adanya , namun harapan dan
mimpi-mimpi belum sepenuhnya gu gapai
Ku mohon tuhan
Jangan biarkan mimpi itu lenyap
Sebagaimana waktu ini ku lewati
Buatlah itu menjadi lebih indah dan bermakna
Untuk aku masa depanku
Rindu untukmu bukan untuk masa lalu
Tapi rindu untuk masa depan .
Rasanya sajak rindu ini kembali menemukan
Makna dan arti di saat orang - orang tersayang
tak lagi tiada di depan mata .
Sajak ini kutulis untuk sebuah kabar
Bahwa kematian telah selesai kutinggalkan
Selebihnya hanyalah kecemasan , Meksi selalu
ku sebut namanya dalam doa
Dari dua jalan menuju kenangan dan
Kerinduan , Seberat ini kah yang kita rasakan .
Menanggung beban berat dan derita di masa muda
Pagi mengajariku cara merangkak menelan
Jarak berharap ada sosok baru lagi yang
Datang yang menjelma menjadi seperti dirinya yang pergi
Sedang malam mencipta sudut ruang untuk
Tuhan . ku selalu menyebut namanya dalam sujud .
Waktu terus memutar angka-angka yang sama,
Harapan dan cita - cita masih seperti hari-hari
Kemarin , tak ada yang berubah . Namun
Hanya penantian yang tak kunjung datang .
Hingga ingatan kembali bangkit , menelusuri
Serambi - serambi masa lalu .
Menuliskan kisah perempuan penanam benih keringat
Dan seorang lelaki penyabar
Ke mana aku mencari
Di hatimu tempat membasuh diri dengan cinta
Kasih dan sayang untuk ku perkenankan
Di Ujung Senja yang Abadi
Megah merah merona
Kini , waktu dan sore merentangkan detiknya
Tenggelam bersama senja di peraduannya
Melampiaskan segala hal kepada sang surya
Aku tampak gundah , gelisah bercampur
Bimbang dan air mata
Merindukanmu mungkin adalah jalan yang akan kita tempuh
Melihatmu tertawa? Mungkin itu yang ia suka
Memelukmu? Mungkin itu cara ia memberimu kehangatan dan kebahagiaan setiap saat .
Kini , ia menghentikan geraknya .
Tak bergerak
lagi selama lamanya , nadanya berbujur kaku
Di pangkuankunya
Ini adalah luka dan derita yang terukir
Menusuk relung hati ini
Terlukis banyak kesedihan di dalamnya
Melambangkan cinta yang teramat besarnya
Turut berduka cita , Husnul khatimah untuk beliau dan di berikan tempat yang layak di sisinya . Semoga di berikan kesabaran dan ketabahan untuk semua dan keluarga dalam menerima kenyataan ini . Saya minta maaf juga tidak membersamai di akhir penguburannya . Hanya doa yang bisa ku titipkan .
# Maperaha Berduka



Komentar
Posting Komentar