Soal HAM Dan Pergerakan Mahasiswa .

 Dok : Aksi Depan Polda Sultra 

Kita Bicara Kepentingan Siapa .

Oleh : Rasmin Jaya 

Soal HAM adalah sesuatu yang tidak pernah Usai. Berangkat dari ungkapan Bung Hatta bahwa mahasiswa dan pemuda adalah hati dan pikiran masyarakat “ kita butuh formulasi dan transformasi gerakan baru untuk metode berjuang dan berpikir .

Dengan kondisi seperti ini , saya di paksa untuk memantik sebuah tulisan dan keluh kesah yang tak dapat di selesaikan bahkan diskusi dan bergerak pun tak kunjung ada keputusan . Menelisik berbagai persoalan yang ada nampaknya kita sedang bergunjing di perhadapkan dengan berbagai problem baik tinggal lokal maupun nasional baik sosial , ekonomi , politik maupun kemanusiaan itu sendiri .

Carut marut gerakan mahasiswa membuat kita sadar bahwa ada berbagai masalah dalam tubuh bangsa ini wabilkhusus masalah penting yang di hadapi adalah menyoal kemanusiaan . Bicara kemanusiaan adalah sesuai yang tidak pernah usai sebab ini menyangkut harkat dan martabat segala individu , Bagaimana tidak kasus –kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia berat masa lalu membuat kita secara sadar dan tidak sadar merespon hal –hal tersebut untuk memenuhi rasa keadilan masyarakat.

Melihat ke dalam tubuh bangsa ini pernah terjadi suatu masa yang amat kelam dan amat keji bahwa selama 32 tahun bangsa Indonesia ini hidup dalam tertatih tatih di bawah cengkraman kekuasaan yang otoritarianisme , diktator , birokrat . Berbagai rentetatan peristiwa dan dinamika perjuangan menuju era keterbukaan , reformasi dan demokrasi tetapi sepertinya tidak perduli dengan apa yang terjadi di masa lalu apa lagi proses keadilannya.

Penindasan dan kekejaman yang di rasakan oleh korban , rakyat dari berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia cenderung di lupakan begitu saja mulai dari 1965 -1966 pembantaian masaal , Soal Rasisme Papua dan represif aparat ,1974 peristiwa malari , pembelengguan kemerdekaan mahasiswa melalui NKK dan BKK 1978 , 1998 Aksi Reformasi dan tragedi semanggi , Munir , Marsinah , Wiji Tukul bahkan pejuang _pejuang keadilan lainnya seperti Novel menjadi sejarah kebanggaan dan kejayaan gerakan mahasiswa yang kadang –kadang memilukan dan peristiwa Genosida hanya menjadi catatan kelam dan sejarah hitam bangsa Indonesia . Hal itulah yang tidak pernah di bedah dan di rekontruksi ulang untuk menemukan akar penyebab dan persoalannya serta merumuskan lagi sistem baru yang lebih menghormati dari pada Hak Asasi Manusia (HAM).

Mengutip Law Rance pada setiap pembahasan mengenai isu pelanggaran HAM yang terjadi sebenarnya adalah sebuah kondisi yang menunjukan bahwa setiap orang tahu mengenai kebenaran atau apa yang terjadi sesungguhnya . tahu siapa pelaku kekerasan dan hal –hal yang di lakukan . Pelaku kekerasan dan kejahatan juga tahu bahwa setiap orang mengetahui siapa pelakunya bahkan setiap orang juga tahu bahwa pelaku kekerasan tahu setiap orang tahu bahwa mereka pelakunya . namun masalahnya bukan berada pada posisi saling tahu tetapi pada tindakan hukum yang mengakui itu salah bahwa ada pelanggaran dan hal tidak di benarkan atas nama apapaun bahkan negara itu sendiri . 

Kita harus banyak belajar dari sejarah bangsa kita sendiri untuk membangun ingatan sosial terhadap serangkaian peristiwa , jangan muda lupa ingatan . Mengutip apa yang di sampaikan oleh Nelson Mandela bahwa “ kekuatan otak melawan lupa adalah kekuatan manusia melawan kekuasaa “ Hal ini cukup akut Sikap ini penting agar kita tidak lupa terhadap sejarah bangsa kita demi keadilan dan kedamaian khusunya sejarah kelam yang menimpa sendi -sendi kehidupan berbangsa dan bernegara .

Melanjutkan pula apa yang di sampaikan oleh walter Benjamin” Tugas peradaban adalah menggumuli memoria pasionis yang di tindas dan di perbudak lalu membangun budaya . Mengingat masa lalu yang menjadi korban penindasan atau perbudakan sampai hari ini tak kunjung usai untuk selalu bergelut dengan hidup yang harus di perjuangkan untuk menyelamatkan masa lalu yang suram demi masa depan bangsa kita . 

Tanpa beban masa lalu dan tugas sejarah seluruh bangsa bisa membangun kembali hubungan yang tidak di bayangi oleh konflik dan kebencian hari kemarin . Sebab sejatinya reformasi sejatinya .hanyalah sebuah reaksi sistem yang membuang Orde Baru dan kroni kroninya dari tubuhnya. Namun, sistem itu sendiri belum berubah. Sistem birokrasi masih dikuasai oleh para birokrat Orde Baru, yang kini telah berganti kulit dan bermetamorfosis , seolah-olah mendukung reformasi. Roda pemerintahan masih menjalankan kebijakan-kebijakan orde baru sebab faktanya setelah reformasi muncul berbagai persolaan dan keresahan masyarakat khususnya masalah HAM yang tak kunjung mendapatkan tempat keadilan dan penyelesaian . Di Sulawesi Tenggara sendiri pun ada Tragedi Berdarah 26 september 2019 dua anak bangsa yang mati di bawa moncong senjata karena memperjuangkan dari pada Hak _Hak Masyarakat bersama masyarakat sipil menuntut UU KUHP dan KPK yang di lemahkan pada saat itu dengan tagar Reformasi Di Korupsi . 

Tragedi berdarah yang terjadi tersebut merupakan lembar sejarah yang paling Hitam yang di lakukan oleh aparat terhadap perjuangan mahasiswa . Selain karena begitu banyaknya warga bangsa yang menjadi korban juga karena dasyatnya dampak jangka pendek maupun jangka panjang yang di timbulkannya . Trauma gerakan mahasiswa menjadi momok menakutkan juga di lingkaran mahasiswa iru sendiri dengan kejadian 26 september 2019 . Ironisnya meskipun tragedi itu adalah terbuka besar -besaran dan berlangsung dalam kurun waktu setidaknya beberapa tahun ini selalu di teriakan , meski masih menyimpan banyak misteri dan karenan adanya misteri itu mendorong banyak gerakan spontanitras dan banyak spekulasi di samping manipulasai dan distorsi .

Terkait dengan itu korban tragedi nampaknya sangat di perhadapkan dengan berbagai pilihan. Pertama kita tahu bahwa tidak melupakan juga tidak mengampuni pelaku kejahatan , Kedua tidak melupakan tetapi kemudian mengampuni tetapi harus di adili dulu . nampaknya sangat sulit untuk di lupakan sebab sangat mengiris hati dan trauma yang paling dalam, konsep penyelesian nampaknya sangat berbelit- belit dengan supremasi hukum yang lemah dan sudah kurang mendapatkan kepercayaan masyarakat . Sewaktu waktu jaminan keselamatan dan keamanan masyarakat akan mulai terganggu , tidak ada lagi penegakan hukum yang dapat memberikan kepastian sesuai dengan UU yang berlaku , karena usai kejadian 26 september 2019 masalah -masalah kemanusiaan berdiri rapi mencari jalannya sendiri , mulai dari tindakan represif aparat , sat pol pp dan lain _lain hanya singgah di depan mata menuntut kita untuk ambil bagian dari proses penyelesaiannya . Justru banyak yang berubah adalah iklim kebebasan politik karena menyangkut kepentingan negara dan elit _elit politik LOkal maupun nasional .

Kita tahu menahu bahwa konstalasi dan dinamika pergerakan mahasiswa hari ini mulai krisis legitimasi dan krisis kepercayaan di tengah _ tengah masyarakat apa lagi di lingkaran mahasiswa itu sendiri . Adanya ketidaksaling percayaan akan meruntuhkan pertahanan dan melemahkan gerakan mahasiswa sehingga apa yang menjadi tujuan dan harapan tak mungkin bisa tercapai . Tanpa persatuan yang utuh apa lagi dengan terkotak kotaknya kelompok gerakan hanya persoalan mencari eksistensi dan popularitas di kalangan mahasiswa ,Namun meskipun demikian mahasiswa tetap menjadi sala satu dari jutaan manusia yang pernah di tengah-tengah perlawanan terhadap sebuah tirani yang sedang mengamuk mencakar masa depan anak muda yang merampas cita – cita reformasi.

Perlawanan seperti ini di lakukan oleh orang-orang yang percaya akan mimpi dan  sebuah harapan di segala bangsa maupun segala masa . Jika pun kita mati seperti Gie dan tokoh –tokoh pejuang mahasiswa yang di selamatkan oleh idealismenya dengan mati muda , Kita hanya menggegapi segala kisah dan arti segala yang pernah aku tahu dalam hidup karena perjuangan adalah suatu pilihan dan sebuah keharusan .

Pernah dan sering kali mahasiswa bertaruh asap di tengah riak panas matahari dalam sebuah aksi catatan demonstrasi . Kita kadang di perhadapkan pada sebuah situasi di mana harus menyerah dan melanjutkan mimpi , harapan yang harus di selesaikan . Memeras otak , tenaga dan pikiran dengan berbekal seadanya seperti pada pejuang dan tokoh-tokoh terdahulu yang lebih mengedepankan kewarasan otaknya dari pada isi perutnya . Ini menjadi kisah dan catatan bahwa kita pernah terjadi pada suatu masa mengorbankan  kebebasan diri sendiri demi kebebasan masyarakat umum .

Namun sekuat apapun rintangan dan hambatan di depan sana tidak ada kata menyerah selagi apa yang menjadi komitmen belum semuanya terpenuhi . Jika berpikir mengenai suatu usaha untuk mendorong tranformasi ide dan gagasan maka yang layak untuk di ungkap dan di telanjangi adalah bagaimana penguasa menjalankan kekuasaanya sehingga rakyat dalam kondisi dan posisi lemah.

Strategi apa yang di kembangkan oleh penguasa di mana rakyat memiliki kepatuhan yang tinggi dan dapat di perdaya secara semena mena , suatu kondisi di mana kritik dan perlawanan politik rakyat sangat sepi atau bahkan tidak ada dalam riak-riak suara perjuangan sebab pukulan penguasa dalam hal ini terbilang kuat . Untuk kita memahami hal itu seluk beluk , melihat pengalaman pahit yang telah lalu maka kita  merasa bahwa pecah dan porak porandanya gerakan dan barisan kita karena di landa oleh kepentigan kelompok dan berbagai ragan penghianatan . terutama karena kurangnya keseragaman metode berpikir anggota barisan kita sehingga selalu melahirkan sectarian gerakan sehingga masing -masing mengambil tafsiran dan sikap sendiri , yang bersimpang siur dan saling berbenturan sesama kawan . Lupa pada tujuan bersama , oleh karena itu dengan kita mengharapkan suatu metode dankombinasi perjuangan dengan adanya kesatuan tafsir revOlusi dan tujuan bersama sama seperti yang kita cita citakan , karena nafas yang mengantarkan kita adalah keyakinan . kesatuan tafsir perjuanganadalah berarti kesatuan landasan , tujuan dan langkah bersama . Masing-masing individu dan kelompok dalam barisan harus dapat mengembangkan kreasi -kreasinya , tidak dOgmatis dalam menghadapi persoalan perjuangan . Masing -masing menuju satu sasaran bersama dalam derap langkah yang harmonis dan seni revolusi yang matang sehingga dapat menilai keadaan secara Objektif , siapa benar dan siapa salah sehingga tidak terjadi penilaian perorangan secara like dan dislike , suka dan tidak suka pada orangnya sebagai kelompok yang menghianati perjuangan.

Ini juga suatu kondisi di mana kita saling membangun kesepahaman satu sama lain , saling percaya agar masa kini di bingaki kembali untuk mewujudkan cita -cita kemanusiaan dengan masa depan yang di rencanakan bersama . Konsolidasi gerakan dan mobilisasi massa harus menggunakan metode aksi dan pola yang matang karena kita melawan berbagai parodi kekuasaan para elit dan bukan hanya kesadaran yang di butuhkan tetapi juga kualitas gerakan strategi dan taktik  yang di bangun .

Historia Magiste Vitae Sejarah adalah guru kehidupan !   



Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer