Aksi Refleksi Hari Lahir Pancasila Sebagai Upaya Membangun Kesadaran Dan Jiwa Nasionalisme
Komisaris DPK GmnI FISIP-UHO
Rasmin Jaya
Jasmerah , Jangan sekali kali Melupakan sejarah 1 Juni 1945 - 1 Juni 2021 Hari Lahir Pancasila !
Dalam momentum hari besar nasional 01 Juni 2021 sebagai hari lahir Pancasila semestinya kita harus ambil bagian dalam proses refleksi untuk membangun kesadaran nasionalisme dan patriotisme . Apa lagi di tengah kondisi dan carut marut bangsa yang di Landa dengan banyak persoalan ini . Tergerusnya nilai - nilia kebudayaan lokal dan nasional membuat kita tidak menutup mata akan hal itu . Nilai - nilai Pancasila yang terkandung dalam filosofi bangsa indonesia sangat banyak menyimpan Akan makna dan hakikat . Olehnya itu kita harus melanjutkan cita - cita dan semangat perjuangan kita seperti Founding Father bangsa Indonesia .
Karena jika tak demikian akan muncul permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini sala satunya memudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda khususnya mahasiswa. Jika di lihat dari partisipasi dan Keikut sertaan dalam merefleksi hari - haru besar itu sangat minim sekali , Hal ini disebabkan banyaknya pengaruh budaya asing yang masuk di negara kita sehingga merong rong dari pada kebudayaan kolektif dan gotong royong seperti apa yang telah di sepakati bersama . Akibatnya, banyak generasi muda yang melupakan budaya sendiri karena menganggap bahwa budaya asing merupakan budaya yang lebih modern dan bisa di bangga banggakan .
Hal tersebut termaktub pada nilai-nilai luhur bangsa yang banyak diabaikan bahkan sejarah pun tak banyak di ketahui di kalangan pemuda dan mahasiswa , Rasa apatis hampir terjadi di sebagian besar generasi muda. Sejak dahulu dan sekarang ini serta masa yang akan datang , peranan pemuda atau generasi muda sebagai pilar, penggerak, dan pengawal jalannya pembangunan nasional sangat diharapkan , Olehnya itu di butuhkan kesadaran nasional untuk kembali kepada cita-cita Revolusi 1945 sebagai jalan menuju sosialisme Indonesia dalam Praktek .
Olehnya itu kami dari DPK FISIP - UHO akan terus memperingati hari lahir Pancasila 1 Juni 2021 setiap tahunnnya sebagai bukti dan komitmen kami menjaga Pancasila dan keberagaman . Membangun sikap persatuan dan toleransi melalui organisasi dan jejaring sosial yang luas, pemuda dan generasi muda dapat memainkan peran yang lebih besar dan penting untuk mengawal jalannya pembangunan nasional serta mendedikasikan dirinya dalam berbagai persoalan masyarakat . Berbagai permasalahan yang timbul akibat rasa nasionalisme dan kebangsaan yang memudar banyak terjadi belakangan ini. Banyak generasi muda atau pemuda yang mengalami disorientasi , krisis mentalitas , krisis moralitas , krisis Legitimasi dan terlibat pada suatu kepentingan yang hanya mementingkan diri pribadi atau sekelompok tertentu dengan mengatasnamakan rakyat sebagai alasan dalam kegiatanya.
Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara merupakan hasil kesepakatan bapak pendiri bangsa ketika negara Indonesia didirikan dan hingga sekarang di era globalisasi, negara Indonesia tetap berpegang teguh kepada Pancasila sebagai dasar negara. Sebagai dasar negara, Pancasila harus menjadi acuan dan corong negara dalam menghadapi berbagai tantangan global dunia yang terus berkembang.
Diera globalisasi ini, peran Pancasila dan generasi muda yang mewakili hati dan pikiran Masyarakat menurut Moh . Hatta tentulah sangat penting untuk tetap menjaga eksistensi kepribadian bangsa Indonesia dan Trisakti bung Karno berdikari di bidang ekonomi , berdaulat dalam bidang politik dan berkepribadian dalam berbudaya .
Sehubungan hal tersebut , generasi muda harus menjadi ujung tombak dalam setiap persoalan yang mengancam keutuhan , sebagai pilar bangsa diharapkan memiliki jiwa patriotisme dan nasionalisme dengan tetap bertahan pada nilai-nilai budaya bangsa Indonesia meskipun banyak budaya asing masuk di negara Indonesia. Dengan berlandaskan Pancasila, diharapkan pengaruh budaya asing bisa disaring sehingga generasi muda bisa menjadi generasi yang benar-benar cinta pada tanah air Indonesia apa pun keadaannya.
Terkait dengan hal itu , sebagai barisan Nasionalis dan marhaenis kita berkomitmen bahwa nasionalisme yang kita bangun adalah bukanlah nasionalisme sempit atau nasionalisme Civinis yang di adopsi oleh Adolf Hitler melainkan lebih mencerminkan humanisme dan internasionalisme yang terlahir dari tiga kondisi yaitu adanya eksploitasi ekonomi, kekecewaan politik akibat dominasi kekuasaan asing, dan hilangnya hak mengembangkan kebudayaan lokal di bawah cengkeraman sistem pendidikan kolonial.
Sejarah adalah pelajaran yang berharga. Masa lalu dan masa kini merupakan modal utama bagimana masa depan terbentuk. Ku harap kita semua bagian dari pada pembuat sejarah bukan penikmat sejarah bangsa ini .
Rasmin Jaya



Komentar
Posting Komentar